Halaman

Follow us on Facebook

Halaman

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Guru Peneliti, Guru Abad 21 yang Dinanti

Sumber ilustrasi: https://www.edutopia.org

Guru merupakan salah sorang sosok sentral dalam proses pendidikan anak di sekolah. Perannya yang sangat strategis menjadi penentu keberhasilan para peserta didiknya. Dengan posisinya sebagai suatu profesi, guru memiliki beberapa tugas dan tanggung jawab di dalam menyukseskan tujuan pendidikan, baik tujuan satuan pendidikan (tujuan lokal) maupun nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU Nomor 20 Tahun 2003).

Beberapa tugas penting -dan berat sesungguhnya- diemban oleh seorang guru. Tugas utama guru bukan saja mengajarkan beberapa materi ajar atau ilmu kepada peserta didik, tetapi lebih dari itu, guru juga dituntut untuk bisa melakukan proses pendidikan secara holistik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Pasal 1 ayat 1.

Di dalam menjalankan tugas pokok dan tanggungjawabnya ini, seringkali guru menghadapi berbagai masalah dan hambatan. Mulai dari masalah kognitif atau pengetahuan peserta didik, masalah afektif atau sosialnya, masalah psikomotor atau keterampilannya, masalah psikologisnya, bahkan masalah yang ada pada atau dimiliki oleh guru itu sendiri, sehingga out put-nya masih jauh di luar harapan. Terlebih-lebih jika hal ini dikaitkan dengan perkembangan abad 21, masalah-masalah yang muncul tentu saja akan lebih banyak dihadapi.

Dengan demikian, dibutuhkan sosok guru yang adaptif, solutif, informatif, dan reflektif yang lebih memahami akan kondisi perkembangan yang ada, terutama pada proses pendidikan di sekolah. Guru peneliti barangkali bisa menjadi solusinya. Apa itu guru peneliti?

Guru peneliti adalah guru yang tidak hanya melakukan tugas dan fungsi pokoknya dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi tetapi lebih dari itu melakukan refleksi atau renungan diri atas semua proses tugas dan fungsi pokoknya itu. Refleksi yang dilakukan adalah refleksi menyeluruh. Kemudian hasil refleksinya itu dituangkan ke dalam kegiatan penelitian. Dalam hal ini, penelitian tidak diartikan secara sempit dan kaku hanya melalui PTK (Penelitian Tindakan Kelas) saja, melainkan suatu kegiatan dan/atau tindakan memperbaiki proses yang terjadi, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Sebagai contoh, di dalam proses pembelajaran, guru peneliti tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga memperbaiki proses pembelajaran yang ia lakukan. Selain itu, guru peneliti harus mencari dan melakukan inovasi-inovasi pembelajaran dan pendidikan yang sesuai dan sejalan dengan perkembangan saat ini (abad 21) dalam melaksanakan proses pembelajaran. Hal penting lainnya yaitu bahwa guru peneliti tidak bekerja sendirian. Ia harus melibatkan berbagai pihak dalam melaksanakan proses pembelajarannya. Mengajak berdialog dengan peserta didik dan berdiskusi serta berkolaborasi dengan teman sejawat merupakan suatu keniscayaan bagi seorang guru peneliti.

Dengan demikian, guru peneliti tidak hanya cukup melaksanakan tugas dan fungsi pokoknya yang tercantum di dalam UU Nomor 20 Tahun 2003, melainkan juga memberikan sumbangsih pemikiran-pemikiran dan inovasinya bagi perbaikan proses pendidikan di negeri tercinta ini yang sesuai dengan tuntutan dan perkembangan abad 21.

Penulis:
Cecep Gaos, S.Pd

Guru SD Puri Artha Karawang

Artikel ini telah dimuat di Kompasiana.
https://www.kompasiana.com/cecepgaos/59f55bafff24055ec6742912/guru-peneliti-guru-abad-21-yang-dinanti

Ingatlah Pemuda, Masa Depan Bangsa Ada di Tanganmu!


Sumber ilustrasi: https://www.futuready.com


28 Oktober adalah tanggal yang sangat bersejarah dan merupakan harinya pemuda Indonesia. Hal ini dikarenakan pada tanggal yang sama, 89 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928 pemuda Indonesia telah bersumpah dan membulatkan tekadnya untuk bersatu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yang dibingkai dalam ikrar Sumpah Pemuda, yang berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.  

Kemudian, dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di abad 21 ini, tidak ada salahnya kita mempertanyakan kembali eksistensi sumpah dan tekad yang telah para pemuda bulatkan pada saat itu. Pertanyaan-pertanyaan reflektif seyogianya perlu dimunculkan dalam diri sebagai upaya untuk menumbuhkan dan memperkuat kembali tekad suci para pemuda tersebut.
Apakah kita masih mengaku bertumpah darah yang satu, ataukah malah sering saling menumpahkan darah sesama anak bangsa? Apakah kebhinekatunggalikaan masih kita akui dan junjung tinggi, ataukah malah kita injak-injak lalu kita lemparkan ke titik nadir yang paling dalam? Apakah kita masih menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, ataukah kita lebih bangga dengan dan malah mengagung-agungkan bahasa asing? Itulah beberapa pertanyaan reflektif yang mungkin bisa kita munculkan dalam momentum Hari Sumpah Pemuda tahun 2017 ini.

Tidak bisa kita pungkiri, dalam perjalanannya, bangsa ini telah mengalami beberapa peristiwa dan cobaan yang mampu mengoyak-oyak dan mengobrak-abrik sumpah dan tekad yang tertuang di dalam Sumpah Pemuda. Sebut saja peristiwa-peristiwa kerusuhan berbau sara yang telah mengoyak-oyak rasa kesatuan dan persatuan kita sebagai sesama anak bangsa. Pun demikian peristiwa politik, baik lokal maupun nasional, yang tidak jarang mengkotak-kotakkan kebhinekaan dan menyulut sifat dan sikap arogan, apatis, dan fanatis buta. Tidak jarang pula kita saling menegasikan. Saya yang paling benar, kamu pasti salah. Saya yang paling pancasilais, kamu komunis dan fasis. Saya penjaga kebhinekatunggalikaan, kamu perusak kebhinekatunggalikaan, dan lain sebagainya. Belum lagi fenomena bahasa alay dan “Kids Jaman Now” yang telah menghancurkan tatanan bahasa persatuan kita, yaitu bahasa Indonesia.     

Oleh karena itu, sudah saatnya kita sebagai generasi penerus bangsa untuk saling bergandengan tangan mempererat simpul-simpul kebangsaan untuk membangun negara tercinta ini. Lakukan apapun yang terbaik untuk bangsa kita sesuai dengan kemampuan dan posisi masing-masing. Kita jangan hanya mengharapkan sesuatu dari negara kita. Tetapi sebaliknya, kita lakukan sesuatu demi negara kita. John F. Kennedy dan Bung Karno pernah mengatakan “Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu.”

Pemuda adalah generasi penerus dan pewaris bangsa dan negara. Maju mundurnya negara Indonesia di masa yang akan datang akan ditentukan oleh para pemuda saat ini. Ada sebuah pepatah Arab yang berbunyi “Syubbanul yaum rijalul gad” yang artinya pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok. 

Dengan demikian, dengan momentum Hari Sumpah Pemuda  tahun 2017 ini, marilah kita bersatu bergandengan tangan. Marilah kita junjung tinggi nilai-nilai yang terkandung di dalam Sumpah Pemuda. Tingkatkan peran serta dan kapasitas pribadi kita sebagai pemuda untuk membangun negeri tercinta, negara Indonesia.   

Selamat Hari Sumpah Pemuda Tahun 2017!
Bersatulah Pemuda Indonesia!

Penulis:
Cecep Gaos, S.Pd
Guru SD Puri Artha Karawang 

Artikel ini telah dimuat di Kompasiana.
https://www.kompasiana.com/cecepgaos/59f4a25fc252fa693e6479e3/ingatlah-pemuda-masa-depan-bangsa-di-tanganmu 

Senin, 18 September 2017

Kegiatan “Limit”, Upaya Membumikan Pendidikan Karakter di Sekolahku

Mengawali Kegiatan Limit di Kelas IIIA SD Puri Artha Karawang TA. 2017/2018 (Dokumentasi Pribadi)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi digital (Iptekdigi) serta internet tidak bisa dipungkiri mempunyai dampak positif dan negatif. Perkembangan iptekdigi dan internet ini bagai dua sisi mata uang. Satu sisi membawa harapan akan kehidupan yang lebih mudah, efektif dan efisien, namun di sisi lain menimbulkan kekhawatiran atau kecemasan akan pudarnya nilai-nilai karakter dan budi pekerti di kalangan generasi digital native (baca: generasi muda abad 21).

Untuk menghilangkan kekhawatiran atau kecemasan ini, berbagai pemangku kepentingan –terutama pemerintah- telah, sedang, dan akan terus mengupayakan usaha-usaha preventif dan edukatif dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat meminimalisir dampak negatif perkembangan Iptekdigi dan internet dan yang dapat menumbuhkan nilai-nilai karakter dan budi pekerti pada generasi digital native.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 13 Juli 2015 telah mengeluarkan dan menetapkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti (PBP). PBP –sebagaimana tercantum di dalam pasal 1 ayat 2– adalah kegiatan pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah yang dimulai sejak dari hari pertama sekolah, masa orientasi peserta didik baru untuk jenjang sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan, sampai dengan kelulusan sekolah. Adapun tujuan PBP adalah untuk: (a) menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan; (b) menumbuhkembangkan kebiasaan yang baik sebagai bentuk pendidikan karakter sejak di sekolah, keluarga dan masyarakat; (c) menjadikan pendidikan sebagai gerakan yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan keluarga; dan atau (d) menumbuhkembangkan lingkungan dan budaya belajar yang serasi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga.

Kemudian pada tanggal 6 September 2017 Presiden RI telah mengeluarkan Perpres Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Hal ini sebagaimana tercantum di dalam pasal 1 ayat 1.

Sekolah saya, SD Puri Artha, yang terletak di Komplek Perumahan Puri Telukjambe Timur Desa Sirnabaya Kecamatan Telukjambe Timur Kabupaten Karawang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab moral untuk mendukung dan melaksanakan amanat yang tertuang di dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 Tentang PBP dan Perpres Nomor 87 Tahun 2017 Tentang PPK ini.

Ada beberapa program SD Puri Artha yang mendukung terhadap upaya-upaya pemerintah dalam menumbuhkan budi pekerti dan menguatkan pendidikan karakter peserta didik. Namun dalam tulisan ini saya hanya akan mengangkat dan berbagi salah satu program yang ada di SD Puri Artha –terutama di kelas IIIA dimana saya menjadi wali kelasnya- yang dilaksanakan di pagi hari sebelum kegiatan intrakurikuler (baca: Kegiatan Belajar Mengajar/KBM) dimulai, yaitu Kegiatan Limit.


Limit singkatan dari Lima Belas Menit. Kegiatan Limit adalah kegiatan di pagi hari selama lima belas menit yang dilaksanakan oleh peserta didik bersama guru di kelas sebelum KBM dimulai. Kegiatan Limit ini terdiri dari empat kegiatan, yaitu (1) Membaca Doa; (2) Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya atau Lagu-Lagu Wajib Nasional; (3) Membaca teks Pancasila; dan (4) Membaca Surat-surat Pendek Al-Quran. Secara umum, kegiatan Limit ini dapat dilihat dari infografis berikut ini.
Infografis Kegiatan Limit (Dokumen Pribadi)

Kegiatan Limit ini dilaksanakan oleh seluruh peserta didik bersama wali kelas di dalam kelas dengan dipimpin oleh salah satu peserta didik secara bergantian setiap hari berdasarkan nomor urut absen. Hal ini dilakukan dengan tujuan menumbuhkan keberanian dan jiwa kepemimpinan pada seluruh peserta didik.

Kegiatan pertama dari kegiatan Limit ini yaitu membaca doa. Doa yang dibacakan adalah surat Al-Fatihah, doa memohon ampun untuk diri sendiri dan orang tua, dan doa memohon ditambahkan ilmu dan pemahaman. Kegiatan membaca doa ini bertujuan untuk keberkahan dan kemudahan di dalam menuntut ilmu dan untuk menumbuhkan nilai-nilai religius. Bagi peserta didik yang beragama selain Islam dipersilakan untuk membaca doa sesuai dengan agamanya masing-masing. Kegiatan membaca doa ini dipimpin oleh salah seorang peserta didik dengan aba-aba dalam bahasa Inggris “Pay attention please! Before we study let’s pray together, pray begin!”. Setelah selesai membaca doa, seluruh peserta didik diminta berdiri untuk memberi salam kepada wali kelas dengan aba-aba “Finish. stand up please!”. Kemudian seluruh peserta didik berdiri dan memberi salam. Setelah memberi salam, -masih dalam posisi berdiri- dilanjutkan ke kegiatan kedua.

Kegiatan kedua yaitu menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya atau Lagu-Lagu Wajib Nasional. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme pada diri peserta didik. Setelah selesai menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya atau Lagu-Lagu Wajib Nasional, -masih dalam posisi berdiri- langsung dilanjutkan ke kegiatan ketiga.

Kegiatan ketiga yaitu membaca teks Pancasila. Kegiatan ini bertujuan agar para peserta didik dapat menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila sehingga terbentuk generasi pancasilais. Setelah membacakan teks Pancasila, para peserta didik disilakan untuk duduk oleh pemimpin kegiatan dengan aba-aba “Finish, sit down, please!”. Kemudian dalam posisi duduk, peserta didik melanjutkan ke kegiatan yang terakhir.

Kegiatan terakhir dari Kegiatan Limit yaitu membaca surat-surat pendek Al-Quran. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang terintegrasi dengan program Baca Tulis Quran (BTQ) SD Puri Artha. Kegiatan ini merupakan kegiatan pendukung program BTQ sehingga peserta didik dapat menghafal surat-surat pendek Al-Quran dengan lebih cepat. Selain itu, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan keterampilan literasi Quran pada diri peserta didik.

Itulah gambaran dari empat kegiatan yang ada di dalam Kegiatan Limit di SD Puri Artha tempat saya mengajar. Video Kegiatan Limit ini bisa dilihat DISINI

Setelah empat rangkaian kegiatan Limit tersebut selesai dilaksanakan, wali kelas memberikan refleksi, evaluasi dan/atau nasihat-nasihat berkaitan dengan pelaksanaan dan nilai-nilai yang terkandung di dalam keempat kegiatan Limit tersebut. Kemudian dilanjutkan  dengan memeriksa kehadiran peserta didik (absensi). Secara umum, nilai-nilai yang terkandung di dalam Kegiatan Limit diantaranya yaitu religius, nasionalis, pancasilais, keberanian, kepemimpinan, kedisiplinan, dan lain sebagainya. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dan diharapkan di dalam gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Kegiatan Limit ini saya yakini mempunyai dampak yang sangat besar terhadap keberhasilan program Penguatan Pendidikan Karakter yang dicanangkan oleh Pemerintah, terutama oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Hal ini dikarenakan waktu pelaksanaan dan isi dari Kegiatan Limit. Seperti telah disampaikan di atas bahwa Kegiata Limit ini dilaksanakan di pagi hari sebelum KBM dimulai. Artinya Kegiatan Limit ini merupakan kegiatan awal atau pembuka dari proses KBM yang dilaksanakan setiap hari. Awal yang baik akan berpengaruh besar terhadap keberhasilan proses-proses berikutnya. Ada sebuah kutipan dari Aristoteles yang berbunyi “Well begun is half done”, yang artinya -kurang lebih- awal yang baik merupakan setengah dari keberhasilan. Dengan demikian, semoga dengan Kegiatan Limit ini program-program sekolah lainnya yang mendukung terhadap keberhasilan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter akan berhasil, sehingga pada akhirnya akan mencetak generasi-generasi bangsa yang mempunyai karakter yang baik dan tangguh. [] 

Penulis:
Cecep Gaos, S.Pd
Guru SD Puri Artha Karawang

Artikel ini telah dimuat di Kompasiana.
http://www.kompasiana.com/cecepgaos/59bf3813a388ed5c0e7c0262/kegiatan-limit-upaya-untuk-membumikan-penguatan-pendidikan-karakter-di-sekolahku 

Kamis, 20 April 2017

Habis Gelap Terbitlah Terang


Judul Buku: Habis Gelap Terbitlah Terang
Penulis: RA. Kartini
Penerjemah: Armijn Pane
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan: Ke-27 
Tahun: 2009
Versi: e-Book (PDF)

Download buku ini DISINI

Kamis, 16 Maret 2017

Percayalah, Media Ranking-1 Board itu Sederhana tapi Dahsyat!

Beberapa waktu yang lalu saya membuat inovasi media pembelajaran yang diberi nama Ranking-1 Board atau Papan Ranking 1. Setelah saya coba terapkan pada pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di kelas 5B SD Puri Artha pada beberapa waktu yang lalu, ternyata it works. Karya tulis tentang Ranking-1 Board ini sila baca DISINI.

Kemudian beberapa waktu yang lalu, tepatnya hari Minggu tanggal 5 Maret 2017, saya coba terapkan Ranking-1 Board ini pada pendampingan persiapan anak saya menghadapi Ulangan Tengah Semester (UTS), terutama mata pelajaran matematika. Pada waktu itu materi yang akan diulangankan adalah tentang pecahan.

Contoh-contoh dan latihan-latihan soal yang saya berikan dikerjakan oleh anak saya dengan menggunakan Rangking-1 Board . Dengan menggunakan Ranking-1 Board tersebut, nampak kegembiraan dan semangat anak saya dalam mengerjakan latihan-latihannya.






Pun ketika evaluasi yang dilakukan setelah sesi pendampingan dan latihan, anak saya menunjukkan pemahaman yang lebih baik dan kegembiraan serta semangat belajar yang luar biasa. Sebelum evaluasi itu dilaksanakan, saya sudah siapkan 15 soal beserta kunci jawabannya. Kunci jawaban ini perlu disiapkan sebelumnya agar jawaban anak segera bisa diketahui benar atau salahnya, karena penggunaan Ranking-1 Board ini dilakukan dengan relatif cepat.






Dari 15 soal evaluasi yang diberikan, Alhamdulillah anak saya dapat menjawab dengan benar sebanyak 12 soal.

Jauh lebih penting dari itu semua, sekarang anak saya mendapatkan kesenangan dalam mengerjakan soal-soal matematika. Katanya belajar matematika itu sekarang lebih gampang dan menyenangkan. Alhamdulillah :)

Mudah-mudahan hasil UTS matematikanya lebih baik dari yang sebelumnya. :)

Terakhir, saya ingin menyampaikan bahwa Ranking-1 Board ini tidak hanya bisa digunakan oleh guru untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar para siswanya, tetapi juga bisa digunakan oleh orang tua untuk menemani putra/i nya belajar di rumah sehingga anak mau belajar dengan penuh semangat. Percayalah :)

Penantian 5 Tahun yang Membahagiakan (Gupres 2017)

Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, tahun 2017 ini UPTD Pendidikan Kecamatan Telukjambe Timur Kabupaten Karawang menyelenggarakan aneka jenis lomba prestasi yang diperuntukkan untuk para siswa, guru, dan kepala sekolah.

Pada kesempatan tahun ini, Alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mewakili SD Puri Artha, tempat saya mengabdi, dalam lomba Guru Berprestasi (Gupres) tingkat Kecamatan Telukjambe Timur tahun 2017. Ada 2 tahapan yang saya ikuti dalam lomba Gupres ini. Tahap pertama yaitu tes tulis, yang diselenggarakan pada tanggal 17 Februari 2017. Dalam tes tulis ini, seluruh peserta harus mengerjakan naskah soal pilihan ganda dan uraian. Soal pilihan ganda berjumlah 50 soal, sedangkan soal uraian berjumlah 20 soal. Di dalam tes tulis ini Alhamdulillah saya memeroleh posisi ke-2, sehingga saya berkesempatan untuk mengikuti tahapan selanjutnya. Tes tahap ke-2 dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2017. Pada tahap ke-2 ini ada tiga tes yang saya ikuti, yaitu wawancara, presentasi Best Practice, dan membuat proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Setelah melewati tahapan-tahapan tersebut, Alhamdulillah kabar baik saya dapatkan. Saya memeroleh juara ke-1 pada lomba Gupres tingkat Kecamatan Telukjambe Timur Kabupaten Karawang tahun 2017. Sehinga Insya Allah saya akan mewakili kecamatan Telukjambe Timur pada lomba Gupres tingkat Kabupaten Karawang.

Kemarin hari Rabu, 15 Maret 2017, telah dilaksanakan pengumuman dan penyerahan penghargaan bagi peraih juara 1 sampai dengan 3 untuk semua jenis lomba yang telah dilaksanakan. Alhamdulillah, pada tahun ini saya bisa ikut berpartisipasi melengkapi prestasi-prestasi yang diraih oleh anak-anak tercinta siswa-siswi SD Puri Artha Karawang.





Ini adalah penantian 5 tahun yang membahagiakan karena bisa memegang piala kembali dalam lomba yang sama yaitu lomba Gupres tahun 2013, meskipun pada waktu itu baru mampu memeroleh juara ke-2.

Saya akan sangat berbahagia dan berterima kasih apabila ada yang bersedia sharing ilmu dan pengalamannya dalam mengikuti lomba Gupres sebagai bekal bagi saya di lomba Gupres tingkat berikutnya.

Akhirnya saya memohon doa dari semuanya untuk kelancaran dan kemudahan saya dalam mengikuti lomba Gupres Tingkat Kabupaten nanti.

Terima kasih :)





Kamis, 02 Maret 2017

Praktik Membuat Kerajinan dari Barang Bekas

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan salah satu mata pelajaran muatan lokal yang ada di SD Puri Artha Karawang. Di kelas V semester 2 ini, ada materi pembelajaran tentang pemanfaataan barang-barang bekas menjadi kerajinan tangan. Untuk melaksanakan pembelajaran ini, pada hari Kamis kemarin, 2 Maret 2017, telah dilaksanakan praktik pembuatan kerajinan tersebut pada kelas VB SD Puri Artha Tahun Ajaran 2016/2017.

Ada 7 jenis kerajinan tangan yang dibuat oleh siswa/siswi kelas VB, yaitu hiasan gambar dari kalender bekas, sampul buku dari kolase, miniatur kota, wayang dari kotak susu, globe dari koran bekas, hiasan gantung dari kardus bekas, dan bingkai foto dari kardus dan kain perca.

Berikut adalah foto-foto kegiatannya.